"buk pecel 1 dimakan sini ya" tanyaqu kepada penjual pecel yang berjualan di sebelah hotel persis tempat qu pelatihan jurnalistik selama seminggu.....
"Mendoannya pinten mas?"
"Loh ibuk asli pundi koq saget boso jowo"
"Kulo Cilacap mas"
"Woalah gur cerak ro nggonqu" sambil aq memperkenalkan diri orang jogja..
"Mendoane kalih nggih buk"....
"Nggih mas pedes mboten?"
"Sedang aja bu" pinta qu kepada penjual pecel...
Saking asiknya memperkenalkan diri saya sampai lupa menanyakan namanya ibu penjual siapa..
Akhirnya setelah kurang lebih 10 menit tersajilah pecel... Satu santapan, waowwww enak sekali.. batinqu berucap..
Kalau untuk seukuran penjual pecel di pinggir jalan menurut saya ini termasuk enak dari mana pun.. meski saya bukan termasuk orang yang gila pecel tapi overall untuk orang yang tidak terlalu suka pecel pasti merasakan kelezatan pecel nya.
Komposisi pecel nya pun terbilang jumbo untuk ukuran saya... Pecel + lontong 1 + mendoan 2 yang menurut saya sebesar mendoan giwangan jogja (deket rumah saya). Enak lezat bikin kenyang tentunya untuk se ukuran saya..
Sudah selesai makan, sambil membayar ternyata harga nya kebetulan murah untuk ukuran ibukota, saya pecel lontong mendoan 2 tambah aqua gelas 1 harganya Rp 13.500,-. murah
Saya ngobrol2 dengan ibu penjual nya yang kebetulan gak ada pembeli... Ibu ini bercerita mempunyai anak 7, anak pertama kukiah semester 6 di daerah kedoya, nomer 2 kelas 3 di smk di cilacap, anak nomer 3 smp kelas 3, nomer 4 sd kelas 6, nomer 5 sd kelas 3 dan yang terakhir masih berumur 1 th..
Hebat sekali menurut saya.. meskipun dengan berjualan pecel, bapak ibu penjual pecel yang pas aq jajan disini bapaknya sedang mengantar pesanan, bisa mensekolahkan anak2 semua...
"Kulo (saya) jualan pecel mulai 8 th lalu mas, tiap 2 bulan sekali juga pulang ke Kroya (cilacap, tempat asal bapak ibu penjual pecel tsb)." Jadi ya tiap 2 bulan bisa nengok anak di kampung mas...
Sembari kepo dan semacam menjadi wartawan dadakan (sambil belajar jurnalistik sih, hehehe). Saya tanya ke ibu penjual..,
"Ibuk kalo jualan gini tiap sore hari ya buw"?
"Iya mas Alhamdulillah tiap sore juga pasti habis mas".
"Oh iya to bu, Alhamdulillah".
"Tiap hari omzetnya berapa bu?", Tanya saya lagi..
"Tiap hari pasti habis 300an porsi mas, itu hari biasa, kalo kemaren pas bulan puasa, bener2 membawa rejeki buat saya mas, paling gak 2x lipatnya ini (600an porsi) pasti laris mas, Alhamdulillah rejeki bulan puasa."...
"Wahh sukses nggih buw, putrane saged sekolah sedoyo".
"Inggih mas Alhamdulillah".
Saya berpikir jika ibu dan bapak penjual ini dengan tekun jualan, meski hanya berjualan pecel, bisa mensekolahkan anak2nya, pasti perjuangannya luar biasa. Kerja keras selalu tawakal dan berdoa agar meski ibu bapak penjual ini hanya jualan pecel, dia ingin anak2nya sekolah tinggi biar jadi anak yang sukses.... Doa yang bagus dari orang tua untuk anak2nya..
Perjuangan memang tidak diperoleh dengan instan. Tapi diperoleh dari hal yang kecil dan sederhana. Seperti ibu dan bapak penjual ini, cita2nya hanya sederhana, hanya ingin anak2nya semua sukses....
Demikian blog ini saya tulis, sayangnya saya tidak tanya siapa nama ibu penjual tadi.. bagi yang ingin mencicipi, pecel ini terletak di selatan hotel trinity, jalan pembangunan 3. Gambir jakarta pusat...
Wednesday, August 24, 2016
Penjual pecel sayur ini ingin anak-anaknya sukses
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Pembukaan Pameran Seni Kriya 2018
Kapolda D.I.Yogyakarta Brigjen Pol. Drs. Ahmad Dofiri, M.Si menghadiri pembukaan Pameran Seni Kriya 2018 "Jogja Fashion and Craft"...
-
Masjid harus betul-betul dijadikan sentra kegiatan. Insya Allah keberadaan masjid dirasakan kemanfaaatannya oleh masyarakat. Hal ini dikata...
-
Hari kedua pelaksanaan "Operasi Zebra Progo 2017" Satuan Tugas (Satgas) Penindakan Ops Zebra Polda DIY yang terdiri dari Gabungan ...
-
-JOGJA- Universitas Gadjah Mada (UGM) adalah suatu "Sosok Lintasan Karya Peradaban". Artinya, dalam lorong ruang dan waktu yang t...
No comments:
Post a Comment